Pasar Terapung Antara Bukti Sejarah dan Budaya

Bagikan Artikel
Pasar terapung yang bread di Kalimantan Selatan

Dari sekian banyak budaya kita masyarakat Banjar, Pasar Terapung adalah salah satu peninggalan tradisi khas masyarakat Banjar dalam bingkai kegiatan ekonomi yakni, jual beli yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu.

Pasar terapung merupakan tradisi perdagangan kita masyarakat Banjar yang sudah ada turun temurun khususnya di wilayah aliran sungai besar Barito.

Kegiatan jual beli dilakukan di atas perahu yang tengah terapung di perairan sungai, oleh sebab itu pasar terapung menyimpan keunikannya sendiri karena ketika melakukan transaksi jual beli baik penjual maupun pembeli berada atau menggunakan jukung (perahu).

Keunikan dan khas pasar terapung ini yang menjadi warisan sejarah dan budaya tersebut, bisa menjadi medium bagi kita saat ini melihat bagaimana aktivitas masa silam masyarakat Banjar khususnya saat melakukan aktivitas jual beli diatas perairan (sungai).

Dimana selain sungai dan jukung sebagai sarana yang digunakan, tradisi lain seperti Bapantun, Akad jual beli sesuai syariat Islam hingga sistem barter atau bapanduk dalam bahasa Banjar masih bisa kita dapati saat berkunjung ke pasar terapung saat ini.

Dalam perspektif sejarah, menurut J.J. Rizal dkk dalam Menguak Pasar Tradisional Indonesia, kehidupan ekonomi politik Kerajaan Banjar turut berperan dalam perkembangan pasar terapung. Aktivitas perdagangan pun kian meluas dan melibatkan pedagang-pedagang dari Jawa, Gujarat, dan Tiongkok.

Keberadaan makam Raja Banjar di kawasan Makam Sultan Suriansyah, Kuin Utara, yang berdekatan dengan pasar terapung Muara Kuin juga dianggap sebagai bukti keterkaitan pasar ini dengan Kerajaan Banjar.

Ketika ibukota Kerajaan Banjar pindah ke Martapura, aktivitas perdagangan masyarakat pun berkembang pesat di Sungai Martapura. Karena lokasinya berada di salah satu anakan Sungai Martapura yang bernama Lok Baintan, maka pasar terapung ini kemudian dikenal dengan sebutan Pasar Terapung Lok Baintan.

Keterkaitan pusat kerajaan dengan aktivitas perdagangan sungai adalah hal lumrah. Menurut Mohamad Idwar Saleh dalam Sekilas Mengenai Daerah Banjar dan Kebudayaan Sungainya sampai dengan Akhir Abad ke-19, kota-kota lama dan baru tempat konsentrasi pemukiman penduduk selalu terdapat di pinggir, persimpangan atau muara sungai.

Konsentrasi pemukiman penduduk yang kuat dan besar kerap kali diiringi dengan penguasaan ekonomi dan perdagangan sungainya, lalu menjelma pusat-pusat keraton baru. (medos @habarbudaya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *