Sahridin, Kepala Desa yang Menemukan Masa Depan di Dalam Tradisi

Bagikan Artikel

Sore beranjak turun. Sinar matahari sanja kuning mulai menyeruak, halaman bangunan Sanggar tempat berlatih di Desa Balida sudah sejak tadi ramai. Dari sanggar terdengar tabuhan gamelan yang mengalun pelan, bersahutan dengan aba-aba pelatih. Beberapa remaja putri mengulang gerakan tari dari awal, berkali-kali, sampai langkah mereka benar-benar seirama.

Di pinggir halaman, beberapa orang tua duduk di bangku kayu sambil menikmati kopi hangat dan “wadai” (kue) khas kampung. Anak-anak kecil berlarian di antara mereka, sesekali berhenti untuk menirukan gerak tari yang baru dilihat. Tak jauh dari situ, hamparan padi yang baru ditanam mulai mengeluarkan kilau hijau daunnya, seolah ikut menyimak latihan.

Itulah sepintas gambaran suasana Sanggar Seni Balida Satria di Desa Balida, Kecamatan Paringin, Kabupaten Balangan. Bagi warga sekitar, pemandangan itu sudah biasa. Bagi tamu yang baru pertama datang, suasananya terasa ganjil sekaligus menyegarkan, dimana sebuah desa yang menjadikan latihan kesenian sebagai rutinitas, bukan seremoni sesekali.

Di desa lain, panggung kesenian mungkin hanya berdiri setahun sekali, saat peringatan Tujuh Belasan atau kunjungan pejabat. Di Balida, panggung itu hidup sepanjang tahun. Di balik rutinitas itu ada Sahridin, sang kepala desa.

Bukan Sekadar Jalan dan Anggaran

Banyak kepala desa mengukur keberhasilan dari hal yang mudah dihitung, berapa meter jalan gang  dibeton, unit fasilitas yang berdiri, persentase anggaran yang terserap. Sahridin tidak menolak ukuran itu. Ia hanya menambahkan satu ukuran lagi.

“Jalan dan anggaran itu penting, tidak bisa dibilang tidak. Tapi bagi saya ada satu lagi yang harus dilihat, yaitu seberapa hidup kesenian dan tradisi di tengah warga kita,” ujar Sahridin saat diajak berbincang

Baginya, kebudayaan bukan barang antik yang cukup disimpan lalu sesekali dipamerkan.

“Budaya itu harus dimainkan, ditonton, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari warga. Kalau cuma disimpan, lama-lama hilang,” ucapnya.

Tujuh Kesenian, Tujuh Cerita

Cara pandang itu melahirkan Sanggar Seni Balida Satria, ruang bagi anak muda desa untuk mempelajari dan memainkan langsung kesenian yang selama ini mungkin hanya mereka dengar dari cerita orang tua. Ada tujuh jenis kesenian tradisional yang digerakkan lewat sanggar ini, termasuk tari, wayang gung, dan kuda gepang.

Bagi Sahridin, angka tujuh bukan sekadar statistik yang enak didengar.

“Setiap kesenian punya cerita, nilai, dan ingatan warga Balida. Itu wajib diwariskan, tapi bukan disimpan di rak. Harus dihidupkan lewat gerak dan suara anak-anak muda yang latihan,” tuturnya.

Ia memegang satu keyakinan sederhana. “Tradisi yang tidak pernah dimainkan akan mati dengan sendirinya. Yang bisa menyelamatkannya bukan dokumen atau arsip, tapi anak muda yang mau turun latihan.”

Tari Ramai Tawaran, Wayang Gung Menunggu Panggung

Tidak semua kesenian mendapat panggung yang sama, dan Sahridin blak-blakan soal itu. Belakangan, materi yang paling sering dilatih di sanggar adalah tari, karena permintaan tampil sedang banyak.

“Sekarang yang paling sering latihan itu tarian, karena banyak job. Banyak undangan tampil, jadi anak-anak harus siap terus,” ujarnya.

Kondisi berbeda dialami wayang gung dan kuda gepang. “Kalau wayang gung dan kuda gepang memang jarang ada undangan tampil. Biasanya kami menunggu Pasar Budaya saja, di sanalah mereka dapat panggung,” kata Sahridin.

Justru karena itu, menurutnya, pasar budaya menjadi penting. Ia menjadi tempat bagi kesenian yang jarang diundang agar tetap punya alasan untuk berlatih dan tampil.

Dari Ruang Latihan ke Ruang Publik

Sahridin sadar, kesenian yang hanya hidup di ruang latihan punya umur terbatas. Ia perlu bertemu penonton dan keramaian. Dari kesadaran itu lahirlah Pasar Budaya Racah Mampulang.

Pasar ini tidak dirancang sekadar sebagai tempat jual-beli, melainkan ruang pertemuan antara kesenian dan penontonnya, antara pelaku UMKM dan pembelinya, serta antara potensi wisata desa dan orang-orang yang belum pernah mendengar nama Balida. Di satu sisi tari dan musik tradisional dipentaskan, di sisi lain warga menggelar lapak kuliner, kerajinan tangan, dan produk lokal.

“Itu bukan dua kegiatan yang kebetulan berdekatan. Kami rancang supaya saling menghidupkan. Budaya jadi pintu masuk untuk menggerakkan ekonomi warga sendiri,” jelasnya.

Baginya, satu pementasan menggerakkan lebih banyak hal daripada yang terlihat di panggung. “Ada anak muda yang belajar menari atau menabuh, seniman lokal yang dapat ruang tampil, warga yang berkumpul, pedagang yang buka lapak, dan produk desa yang dilihat lebih banyak orang. Dari seni lahir keramaian, dari keramaian lahir interaksi, lalu promosi, dan akhirnya peluang ekonomi.”

Kabar terbarunya, Festival Racah Mampulang Bakarasmin 5 dijadwalkan digelar pada November mendatang. “Insyaallah Bakarasmin yang kelima kami gelar bulan November mendatang. Kami ingin seniman dan warga sama-sama siap,” ujar Sahridin.

Sungai, Tebing, Kambing, dan Bambu

Selain kesenian, Balida kini mulai menggarap wisata ekoriparian Nungkaran. Di tepian Sungai Balangan, pengunjung nantinya bisa mandi dan merasakan langsung kehidupan warga di sungai. Di sepanjang tebing Sungai Nungkaran, jalur susur tebing kini mulai ditanami pohon buah-buahan di kiri dan kanannya, supaya orang senang berjalan di sana.

Di Racah Mampulang, peternakan kambing juga sedang berbenah untuk dijadikan wisata edukasi. Dari sisi UMKM, ada kerajinan bambu yang dibuat warga sendiri.

“Kami mulai garap wisata ekoriparian Nungkaran. Sungainya sudah ada, tebingnya kami tanami buah-buahan. Peternakan kambing juga mulai berbenah, nanti bisa jadi wisata edukasi. Ditambah kerajinan bambu dari UMKM warga,” kata Sahridin.

Ia menegaskan, daya tarik wisata tidak selalu lahir dari bangunan megah. “Kadang ia tumbuh dari yang sudah lama dimiliki warga: kesenian, tradisi, makanan, kerajinan, dan cara hidup sehari-hari. Kami ingin orang datang bukan cuma melihat tempat, tapi membawa pulang cerita dari Balida.”

Desa sebagai Rumah, Bukan Sekadar Alamat

Menurut Sahridin, pelestarian budaya tidak perlu menunggu panggung besar di tingkat kabupaten atau agenda pusat. Desa justru punya posisi paling strategis, karena di sanalah tradisi tumbuh dan diwariskan.

“Anak-anak di desa tidak kenal seni dari buku pelajaran. Mereka lihat langsung orang-orang di sekitarnya menari, menabuh, melantunkan syair. Pengalaman seperti itu sulit digantikan,” katanya.

Karena itu, ketika sebuah desa menyediakan ruang bagi kesenian, sesungguhnya ia sedang merawat ingatan kolektif warganya. Sanggar Seni Balida Satria menjadi salah satu rumah bagi ingatan itu, dan Pasar Budaya Racah Mampulang memberinya ruang yang lebih luas untuk bertemu masyarakat dan denyut ekonominya.

Menjaga Akar, Membuka Jalan

Sahridin tidak melihat pembangunan desa sebagai pilihan antara budaya atau ekonomi. “Keduanya bisa berjalan bersama, bahkan saling menguatkan,” ujarnya. Budaya menjaga identitas warga agar tidak tercerabut dari akarnya. Ekonomi memberi manfaat nyata dari aktivitas yang mereka bangun sendiri. Di antara keduanya tumbuh pariwisata berbasis masyarakat.

Ketika sebagian orang memandang kesenian tradisional sebagai peninggalan masa lalu, Sahridin melihatnya sebagai bekal menuju masa depan. Pembangunan desa, katanya, bukan hanya soal mendirikan bangunan atau menyelesaikan proyek fisik, tetapi juga menumbuhkan rasa memiliki di antara warga.

“Akar yang kuat itulah yang paling mampu menopang langkah ke depan,” pungkasnya.

Petang pun turun di Balida. Latihan belum usai, gamelan masih mengalun, dan anak-anak kecil di pinggir halaman masih menirukan gerak tari yang mereka lihat. Di desa ini, rasa memiliki itu dirawat pelan-pelan, lewat tabuhan di sanggar, riuh pasar budaya, dan keyakinan seorang kepala desa bahwa budaya tidak perlu ditinggalkan agar warganya bisa maju. (SA)