
PADANG PARIAMAN, RB — Suara hutan dulu tak pernah benar-benar sunyi di Nyarai. Di sela rimbun pepohonan Bukit Barisan, denting besi dan deru gergaji menjadi irama keseharian.
Bagi sebagian warga, termasuk Ritno Kurniawan, hutan bukan sekadar lanskap, melainkan sumber hidup yang harus “dipetik”, meski dengan risiko.
Setiap pekan, Ritno bersama warga lain menembus hutan, memanggul kayu dengan upah sekitar Rp100 ribu sekali angkut. Tiga kali seminggu, jika cuaca dan tenaga bersahabat. Tak ada jaminan keselamatan. Tak ada kepastian esok.
Namun, ada satu hal yang perlahan tumbuh di benak Ritno: kesadaran bahwa hutan yang terus diambil, suatu saat akan berhenti memberi.Di titik itulah, jalan sunyi perubahan dimulai.
Alih-alih melihat hutan sebagai komoditas, Ritno mulai melihatnya sebagai pengalaman. Ia memperhatikan aliran sungai yang jernih, lubuk-lubuk alami yang tenang, serta jalur setapak yang sebenarnya menyimpan potensi petualangan.
Nyarai, dalam pandangannya, bukan untuk ditebang, melainkan untuk dikunjungi. Perubahan tentu tidak datang seketika. Ketika gagasan ekowisata mulai ia suarakan, tidak semua langsung percaya. Ada keraguan, bahkan penolakan. Bagaimana mungkin meninggalkan pekerjaan lama yang “pasti”, untuk sesuatu yang belum tentu menghasilkan?
Ritno tidak melawan dengan argumen besar. Ia memilih berjalan perlahan mendampingi, memberi contoh, dan terus meyakinkan bahwa hutan yang dijaga bisa memberi lebih lama daripada hutan yang dihabiskan.
Momentum itu datang ketika program Desa Sejahtera Astra hadir. Pelatihan, pendampingan, hingga dukungan fasilitas menjadi katalis yang mempercepat perubahan. Warga yang sebelumnya akrab dengan kapak dan gergaji, mulai belajar membaca arus sungai, memandu wisatawan, hingga memahami standar keselamatan.
Dalam waktu sekitar tiga bulan, perubahan yang dulu terasa mustahil mulai terlihat nyata. Kini, suara gergaji perlahan tergantikan oleh tawa wisatawan dan deru arung jeram.
Sebanyak 45 pemandu arung jeram aktif mengarungi sungai, sementara lebih dari 100 warga terlibat dalam ekosistem wisata desa. Sebagian membuka homestay, sebagian lain menyediakan jasa pemandu atau kebutuhan logistik wisata.
Pendapatan pun berubah wajah. Dari yang sebelumnya bergantung pada hasil hutan yang tak menentu, kini masyarakat bisa memperoleh Rp400 hingga Rp500 ribu per minggu, dari menjaga, bukan merusak.
Bagi Ritno, perubahan ini bukan sekadar soal ekonomi. Ini tentang martabat dan masa depan. Tentang bagaimana masyarakat desa bisa berdiri sebagai tuan rumah di tanahnya sendiri, tanpa harus mengorbankan alam yang diwariskan.
Presiden Direktur PT. Astra International Djony Bunarto Tjondro menilai transformasi di Nyarai sebagai bukti bahwa pembangunan dan pelestarian tidak harus saling meniadakan.
“Ketika masyarakat diberi akses terhadap pelatihan dan dukungan yang tepat, mereka tidak hanya mendapatkan penghidupan yang lebih aman dan stabil, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam menjaga lingkungan,” ujarnya.
Hari ini, Nyarai bukan lagi sekadar desa di kaki Bukit Barisan. Ia telah menjadi cerita tentang perubahan, tentang keberanian meninggalkan cara lama, dan tentang harapan yang tumbuh dari kesadaran.
Di antara riuh air sungai dan langkah para pendaki, jejak Ritno mungkin tak selalu terlihat. Namun arah yang ia tunjukkan, kini menjadi jalan bersama. (*)