Asa Menembus Jalan Hauling, Mahasiswa Bawa Literasi ke Pedalaman Meratus

Bagikan Artikel

PARINGIN, RB – Sekelompok pemuda dan mahasiswa menembus medan berat kawasan perbukitan Meratus demi membawa misi literasi ke pelosok. Mereka tergabung dalam Ekspedisi Gerakan Buku Meratus (GBM) II yang menyasar anak-anak di Dusun Ambatunin, Kabupaten Balangan.

Perjalanan menuju lokasi tidaklah mudah. Dari pusat Kota Paringin, rombongan harus menempuh perjalanan sekitar tiga jam, termasuk melintasi jalan hauling milik perusahaan tambang batubara.

Setelah itu, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki lebih dari dua jam melewati jalur terjal dan menukik.Kondisi medan yang ekstrem menjadi tantangan tersendiri bagi para peserta ekspedisi.

Namun, semangat untuk menyebarkan literasi dan memberikan kontribusi bagi pendidikan di daerah terpencil membuat mereka tetap melangkah.

Ekspedisi ini diprakarsai oleh Forum Gerakan Buku Meratus dengan melibatkan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, di antaranya Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Banjarmasin (BEM KM UMB), BEM Universitas Ahmad Yani Banjarmasin, serta mahasiswa Universitas Sapta Mandiri.

Rombongan tiba di lokasi sekitar pukul 20.00 WITA. Setelah beristirahat sejenak, mereka berbenah dan menyiapkan makan malam sederhana untuk memulihkan tenaga setelah perjalanan panjang.

Sekolah yang menjadi pusat kegiatan ekspedisi terdiri dari dua ruang kelas dan satu bangunan kantor yang terpisah. Meski sederhana, sekolah tersebut menjadi satu-satunya tempat belajar bagi anak-anak di dusun tersebut.Pada keesokan harinya, para relawan mulai berinteraksi dengan siswa-siswi yang berjumlah 13 orang, dengan rentang usia yang beragam.

Salah satunya adalah Lana, siswi kelas 6 yang telah berusia 20 tahun namun tetap bersemangat menempuh pendidikan.Selain menyalurkan donasi berupa perlengkapan sekolah, para relawan juga menggelar kegiatan edukatif seperti permainan dan kuis. Sementara itu, mahasiswa dari UMB memberikan layanan pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat, meliputi pengecekan tekanan darah, kolesterol, asam urat, dan gula darah.

Kondisi Dusun Ambatunin sendiri masih sangat terbatas. Wilayah ini belum memiliki akses jaringan seluler maupun internet. Untuk penerangan, masyarakat mengandalkan tenaga surya. Jumlah penduduknya pun relatif sedikit, hanya belasan kepala keluarga.

Kepala Sekolah SDK Ambatunin, Lelu Dinata, mengatakan bahwa mengajar di wilayah tersebut merupakan bentuk pengabdian. Menurutnya, keterbatasan akses tidak menjadi alasan untuk mengabaikan pendidikan.

“Jika sudah berjanji untuk mengajar, maka dalam kondisi apa pun harus sampai ke lokasi,” ujarnya.

Ia juga mengakui bahwa medan yang berat justru menjadi motivasi bagi para tenaga pengajar untuk terus hadir dan memberikan pendidikan bagi anak-anak di daerah terpencil.

Melihat kondisi tersebut, para relawan berharap adanya perhatian lebih dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun perusahaan yang beroperasi di sekitar wilayah tersebut, khususnya dalam hal pembangunan akses dan dukungan terhadap pendidikan.

Ekspedisi ini menjadi bukti bahwa di tengah keterbatasan, upaya untuk menjaga harapan pendidikan tetap hidup terus dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat. (SA)