Tradisi Maulid Hasil Akultrasi Budaya Dayak Meratus dan Banjar

RAGAMBERITA.ID, PARINGIN – Perayaan Maulid di beberapa tempat di Banua memang tidak biasa. Selain diisi dengan pembacaan syair-syair Maulid secara meriah, pelaksanaan peringatan hari lahir Nabi Muhammad SWA ini disertai juga dengan prosesi dan ritual budaya setempat.

Di Banua Halat Rantau contohnya, disertai dengan prosesi dan ritual budaya Ba ayun Anak sedangkan di Hulu Sungai Tengah (HST) perayaan Maulid kebanyakan digelar pada malam hari. Lain lagi, di Bumi Sanggam Balangan gelaran perayaan Maulid ini disertai dengan istilah Limit yakni, pembagian masyarakat untuk menghadiri saruan Maulid yang digelar desa tetangganya.

Menurut salah satu akademisi ULM Banjarmasin, Drs. M. Zainal Arifin Anis mengatakan, tradisi Maulid di Banua tersebut merupakan hasil dari perkembangan kebudayaan seiring dengan transpormasi budaya yang terjadi sesuai perkembangan zaman.

“Tradisi Maulid ini merupakan bagian akulturasi budaya antara orang Banjar dengan kebudayaan terdahulu yakni Dayak Meratus yang merupakan satu rumpun,” beber dosen sejarah pada prodi FKIP ULM ini.

Secara garis besar, lanjut Arifin Anis, bukti akulturasi kebudayaan ini bisa dilihat dengan adanya beberapa persamaan antara pelaksanaan Maulid dengan Aruh Adat yang digelar di komunitas Dayak Meratus diantaranya, dilaksanakan secara bersamaan dalam satu wilayah atau kampung, mengutamakan kebersamaan dan adanya jamuan makan atau biasa diistilahkan dengan ungkapan Aruh atau Basalamatan.

“Jika disederhanakan tradisi pelaksanaan Maulid yang beragam di Banua ini, merupakan hasil proses akulturasi dan asimilasi Islam yang berjalan baik,” bebernya.

Jadi tradisi Maulid ini, kata dia, merupakan pengabungan tradisi lama dengan yang baru tanpa meninggalkan kebiasaan lama yang diangap masih baik dan diperlukan.

Lebih jauh, menurut salah satu staf pengajar kampus tertua di Kalsel ini, akulturasi budaya yang menghasilkan tradisi Maulid ini membuktikan betapa uniknya kebudayaan itu sendiri. Dimana kebudayaan dalam bentuk seni budaya dan tradisi ritual jadi faktor yang memperkuat persatuan masyarakat, bahkan memperkaya kegiatan keagamaan masyarakat itu sendiri.

Selain itu, menurut dia, keanekaragaman kebudayaan membuktikan jika perbedaan keyakinan tidak menjadi pemisah namun justru menjadi pemersatu melalui kebudayaan.

“Kita harus melihat akulturasi kebudayaan ini sebagai ikatan kultural sebagai hubungan emosional masa lalu yang harus tetap dipertahankan. Apalagi dengan adanya mitos jika kita orang Banjar dan orang Dayak Meratus sesungguhnya badangsanak (mempunyai ikatan darah; genealogis) karena berasal dari keturunan dua bersaudara kandung yakni, Intingan dan Dayuhan,” ungkapnya. (tim)

Please follow and like us:
0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial