Lampihong Pusat Ekonomi Balangan Tempo Dulu

RAGAMBERITA.ID, PARINGIN – Jika melihat ke masa silam, maka kawasan Lampihong, terutama sekitar Jembatan Belanda atau Desa Simpang Tiga dan Lampihong Kanan bisa dikatakan wilayah tersebut sentra ekonomi dan tempat tinggal para saudagar karet pada masa lalu. Ini dapat dilihat dari, adanya rumah-rumah juragan karet yang disebut Rumah Kuna, yang dibangun pada masa kejayaan karet jaman kolonial.

Menurut pemerhati sejarah, Dharma Setiawan, Lampihong sebagai basis ekonomi perkembangan Amuntai dan Tanjung saat tempo dulu ini, tidak terlepas dari faktor geografisnya dimana keberadaan Sungai Batang Balangan merupakan penghubung dengan wilayah Amuntai, sedangkan jalur darat Paringin tumbuh menjadi perlintasan yang menghubungkan Barabai dengan Tanjung.

Selain bangunan rumah Kuna, menurut dia, keberadaan Lampihong sebagai kawasan pusat ekonomi juga bisa ditelusuri lewat sisa-sisa kejayaan perdagangan karet tempo dulu salah satunya yakni, adanya bekas Darmaga

Selain bangunan rumah Kuna, menurut alumni FKIP Pendidikan Sejarah ULM ini, keberadaan Lampihong sebagai kawasan pusat ekonomi juga bisa ditelusuri lewat sisa-sisa kejayaan perdagangan karet tempo dulu salah satunya yakni, adanya bekas Darmaga atau disebut Boom.

“Lokasi Darmaga/Boom ini tidak jauh dari Jembatan Besi (Jembatan Belanda) tepatnya arah ke hilir sungai Balangan,’’ ujar Dharma, Minggu (16/6/2019).

Sebagai sentra ekonomi, lanjut menurut Dharma, Lampihong selain ditempati komunitas pribumi juga ditempati oleh komunitas Belanda, Cina dan India. Bahkan, nama Lampihong sendiri diyakini berasal dari logat (aksen/dialek) bahasa China yakni, Lam-pi-hong. Tapi ada juga yang menceritakan jika, nama Lampihong ini berasal dari kata Lampion yang merupakan lampu hias khas etnis China, karena banyak terdapat lampu Lampion yang dipasang oleh orang China yang bermukin di daerah tersebut.

Bukti lain jika dahulunya Lampihong dihuni oleh komunitas China, kata Dharma, adalah masih eksisnya kesenian Sisingaan di Kecamatan Lampihong. Basisingaan atau Sisingaan ini dulunya disebut orang dengan banaga-nagaan merupkan penampilan memainkan ornamen binatang berupa singga yang diiringi musik. Kesenian ini sama seperti kesenian Barongsai pada etnis Cina hanya berbeda pada ornament binatang yang dimainkan.

“Basisinggan ini diyakini sebagai sebuah akulturasi kebudaya penduduk local dengan penduduk China sebab baik Naga ataupun Singga sama-sama menjadi binatang yang disakralkan oleh komunitas China,’’ pungkasnya. (Tim)

Please follow and like us:
0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial