Benteng Tundakan, Bukti Berjuang Melawan Penjajah

RAGAMBERITA.ID, PARINGIN – Areal Benteng Tundakan yang berada di desa Tundakan Hulu Kecamatan Awayan Kabupaten Balangan pada masa perjuangan dulu, merupakan tempat yang termasuk garis pertahanan Pengeran Antasari di Hulu Sungai (Banua Lima) dibawah Penglima Perang Tumenggung Jalil.

Kini Benteng Tundakan merupakan salah Satu dari Tiga tempat Cagar Budaya di Kabupaten Balangan yang langsung dibawah naungan Balai Pelestarian Cagar Budaya Samarinda yang dibawahi langsung oleh diretur jendral kebudayaan kementerian Pendidikan Nasional Indonesia.

Juru pelihara Benteng Tundakan, Muhammad Ilmi mengungkapkan, luas areal Benteng Tundakan sesuai dengan pagar keliling yang dibuat semasa Balangan masih jadi satu dengan Hulu Sungai Utara adalah sekitar lebar 200 meter dan panjang 100 meter. Kini kondisi benteng yang berupa parit-parit ala mini masih terjaga dengan baik, meskipun para pengunjungnya tiap tahunnya masih bisa dihitung dengan jari tangan.

Selain parit alam, kata Ilmi, dikawasan Benteng Tundakan juga terdapat lobang (mulut goa) yang dipercaya merupakan jalan untuk masuk keterowongan (goa) didalamnya dan juga sebuah makam yang oleh kebanyak warga diyakini sebagai kubur Tumenggung Jalil.

“Makam Tumenngung Jalil terletak diluar areal Benteng dan berada disekitar sungai kecil. Sedangkan untuk mulut goa ada tiga dan diyakini saling berhubungan,’’ bebernya.

Menurut cerita orang tua dulu, kata Ilmi, kubur Tumenggul Jalil berada dibawah pohon Binjai dan dekat sungai namun, kini pohon Binjainya sudah tidak adalagi sedangkan penunjukan kubur sekarang dilakukan oleh salah satu tokoh masyarakat dimasa lalu dengan cara penunjukan langsung.

Sedangkan keberadaan goa yang ada diareal Benteng Tundakan, menurut Ilmi, dibuktikan dengan adanya salah satu warga desanya dengan bantuan salah seorang yang dikenal Tutus Benteng (keturunan penghuni Benteng/orang pintar) bisa masuk kedalam goa tersebut.

“menurut pengkuan orang yang masuk tersebut, didalam goa ada ruangan yang cukup luas, jika diibaratkan bisa mobil truk berpapasan. Sedangkan sebelum sampai ketempat itu harus terlebih dahulu melewati beberapa cabang terowongan dan ada sungai kecil didalamnya,” bebernya.

Terkait pertempuran di Benteng Tundakan sendiri, masih menurut cerita yang dari orang tua dulu ungkap Ilmi, memang ada penghiat yang menunjukan lokasi Benteng Tundakan dan Belanda menyerang mulai arah belakang Benteng Tundakan bukan dari muka.

“Para pejuang memang dalam kondisi tidak siap, bahkan Tumenggung Jalil sendiri dalam keadaan sakit. Padahal para pejuang sudah menempatkan orang dilokasi yang diberi nama Maningau guna memantau pergerakan Belanda jika mau menyerang Benteng, tapi karena Belanda menyerang dari arah belakang maka orang yang bertugas mengawasi pergerakan Belanda tidak mengetahui jika Belanda menyerang Benteng,” bebernya.

Khusus mengenai adanya penghianat yang memberitahu pihak Belanda dimana lokasi kubur Tumenggung Jalil, menurut Ilmi, memang benar adanya.

Bahkan buktinya, hingga kini di desa Tundakan yang dulunya bernama Tandakan (kumpulan para pejuang) ada satu lokasi yang diberi nama Sumpahil.

“Tempat ini diberi nama Sumpahil karena ditempat itulah para pejuang memberikan sumpah gila tujuh turunan yang ditunjukan untuk orang yang memberitahu lokasi kubur Tumenggung Jalil kepada Belanda,” bebernya.

Selain itu, Bapak dua anak ini, juga memperlihatkan sebuah meriah tangan (Meriam Lila) yang merupakan sisa senjata pasukan Tumenggung Jalil saat pertempuran 23 september 1861 yang hingga kini masih disimpannya.

“Meriam ini merupakan warisan turun temurun, sedangkan cerita asal muasalnya saya kurang tau pasti, namun Meriam ini diyakini milik pasukan Tumenggung Jalil,” tutupnya.

Kita sebagai genarai penerus Bangsa sudah seharusnya peka terhadap keberadaan situs sejarah dan jalan sejarahnya. Seperti Benteng Tundakan serta ketokohan Tumengung Jalil agar dipelihara keberadaannya karena pelestarian situs sejarah akan memberikan ikatan kesinambungan yang erat, antara masa kini dan masa lalu.

Pemahaman yang dangkal tentang kesejarahan akan mendegradasi intelektualitas dan moral kita sebaga generasi muda, jangan lupa bahwa mempelajari sejarah adalah mengenai mempelajari pengalaman masa lalu untuk merajut masa depan.
Karena dengan lestarinya situs sejarah, kita dapat lebih mudah mengetahui peristiwa maupun sikap, ide-ide, filosofi, kepercayaan, keindahan, dan pola kehidupan dimasa lalu yang bisa kita jadikan panutan dimasa sekarang dan akan datang. Generasi muda yang buta sejarah adalah generasi yang kehilangan identitas dirinya. (Tim)

Please follow and like us:
0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial