Ada Empat Sub Etnis Dayak Meratus

RAGAMBERITA.ID, PARINGIN – Dayak Meratus dikenal sebagai komunitas orang Dayak yang tinggal di Wilayah Meratus di Kalsel, termasuk di Kabupaten Balangan yang menjadi salah Satu dari Delapan daerah yang menjadi kawasan Meratus selain, HSS, HSS, Tabalong, Kotabaru, Tanah Bumbu, Tanah Laut, Tapin dan Kabupaten Banjar.

Jika selama ini persepsi semua Dayak yang ada di Kabupaten Balangan adalah Dayak Meratus yang semula disebut Urang Bukit tidaklah terlalu betul, sebab adaempat Sub Etnis dayak yang mendiami wilayah Meratus di Kecamatan Halong dan Tebing Tinggi di Kabupaten yang berjuluk Bumi Sanggam ini.

Sekretaris Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Balangan, Eter Nabiring menyampaikan, sedikitnya ada empat sub etnis dayak meratus yang ada di Balangan yakni, Dayak Deah yang mendiami Desa Gunung Riut dan Liyu, Dusun atau dikenal Dayak Halong yang mendiami Desa Kapul, Tabuan dan sekitarnya di Kecamatan Halong dan Pitap dan Bukit yang berada di Kecamatan Tebing Tinggi seperti Desa Iyam, Ajung, Panikin, Kambiyain dan lainnya serta beberap desa di Kecamatan Halong seperti Binuang Santang, Uren dan lain-lain.

Dari empat sub etnis ini, menurut Eterr, selain perbedaan bahasa dan dialek diantar suku serumpun ini juga terdapat perbedaan ritual adat atau sering disebut Aruh Adat antar satu dengan yang lainnya.

“Meski demikian secara garis besar semua sub etnis dayak meratus ini mempunyai satu kesatuan baik secara kewilayah yakni, kawasan meratus maupun secara kehidupan sosial budayanya,’’ ujar Eter saat berbincang, Senin (17/6/2019).

Secara ritual adat, lanjut dia, dayak Deah memiliki persamaan dengan suku dayak deah dari daerah lain seperti di Kecamatan Upau di Kabupaten Tabalong, dimana ritual yang berhubungan dengan kematian lebih dominan dilakukan seperti Aruh Buntang yang bertujuan mengantar arwah dari orang yang sudah meninggal menuju kehidupan berikutnya.

Sedangkan di komunitas dayak Dusun atau Dayak Halong, antara ritual kematian dan ritual bercocok tanam saling melengkapi atau bisa dikatakan tidak ada yang dominan. Aruh adat yang paling terkenal dari komunitas ini ialah, Aruh Baharin yang merupakan pesta syukuran panen padi yang dilaksanakan sesaat setelah musim panen padi (Mangatam Banih).

Sedangkan untuk dayak Pitap, kata dia, ritual adat terkait prosesi bercocok tanam menjadi ritual adat yang lebih dominan dibanding dengan ritual adat lainnya. Salah satu ritual adat atau aruh adat yang dilaksanakan yakni, Aruh Bawanang yang disebut juga Aruh Ganal yang merupakan wujud syukur dengah hasil pertanian berupa padi.

Jika dirunut lebih jauh lagi, lanjut dia, akan lebih banyak lagi menemukan keanekaragaman dari sub etnis dayak meratus yang mendiami wilayah Balangan ini. Tentu dengan banyaknya keanekaragaman ini, menjadi salah satu keunggulan dari Balangan. Untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata budaya bagi para wisatawan baik lokal maupun luar.

“Tapi tentu saja hal ini disertai dengan catatan yakni, jika dikelola dengan sebaik-baiknya. Satu yang dapat menjadi aset yang mempunyai nilai jual yang tinggi bagi dunia pariwisata adalah nilai-nilai budaya yang melekat erat dan selalu dijunjung tinggi masyarakat Dayak Meratus ini,’’ bebernya. (Tim)

Please follow and like us:
0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial